Waspada Hipotermia! Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Pertolongan Pertamanya
Hipotermia adalah salah satu ancaman paling berbahaya di gunung — tapi bisa dicegah dan ditangani jika kamu tahu caranya. Kenali tanda-tandanya sebelum terlambat.
Hipotermia adalah kondisi di mana suhu inti tubuh turun di bawah 35°C — jauh lebih rendah dari suhu normal 37°C. Di gunung-gunung Indonesia, suhu bisa mencapai 0°C bahkan minus di puncak, terutama saat angin kencang dan hujan. Kombinasi dingin, basah, dan angin adalah resep sempurna untuk hipotermia.
Mengapa Hipotermia Berbahaya?
Hipotermia bukan sekadar "kedinginan biasa." Ketika suhu tubuh turun drastis, organ vital mulai gagal bekerja — jantung, paru-paru, dan otak terdampak. Jika tidak ditangani segera, hipotermia bisa menyebabkan kematian bahkan pada pendaki yang terlihat sehat sekalipun.
Gejala Berdasarkan Tingkat Keparahan
Hipotermia Ringan (suhu tubuh 32–35°C) - Menggigil hebat dan terus-menerus - Kulit pucat dan terasa dingin - Bicara mulai lambat atau cadel - Koordinasi tubuh sedikit terganggu - Sering buang air kecil (respons tubuh mengurangi sirkulasi ke ekstremitas)
Hipotermia Sedang (suhu tubuh 28–32°C) - Menggigil bisa berhenti (tanda buruk — tubuh kehabisan energi untuk menggigil) - Otot kaku, sulit berjalan - Bingung, disorientasi, tidak sadar sepenuhnya - Denyut jantung dan napas melambat - Perilaku aneh: melepas pakaian meski kedinginan ("paradoxical undressing")
Hipotermia Berat (suhu tubuh di bawah 28°C) - Tidak sadarkan diri - Denyut jantung sangat lambat atau tidak terdeteksi - Napas sangat dangkal - Pupil melebar, tidak bereaksi terhadap cahaya
Faktor Risiko di Gunung
Angin kencang tanpa pelindung mempercepat kehilangan panas hingga 10x lipat. Pakaian basah karena keringat atau hujan kehilangan 90% kemampuan insulasi. Kelelahan dan dehidrasi menurunkan kemampuan tubuh menghasilkan panas. Mendaki sendirian tanpa teman yang bisa memantau kondisi adalah faktor risiko terbesar.
Cara Mencegah Hipotermia
- •Gunakan sistem layering pakaian: base layer (menyerap keringat), mid layer (fleece), outer layer (jaket windproof/waterproof)
- •Lindungi kepala, leher, tangan, dan kaki — area ini paling cepat kehilangan panas
- •Makan makanan bergizi dan berkalori tinggi sebelum dan selama pendakian
- •Minum minuman hangat seperti teh jahe atau sup saat istirahat
- •Segera ganti pakaian basah begitu menemukan tempat berlindung
- •Jangan berhenti terlalu lama di tempat terbuka saat angin kencang
Pertolongan Pertama Hipotermia
Langkah 1: Pindahkan ke Tempat Berlindung Bawa korban ke dalam tenda atau tempat terlindung dari angin dan hujan segera. Letakkan di atas matras — jangan langsung di tanah karena tanah menyerap panas tubuh dengan cepat.
Langkah 2: Ganti Pakaian Basah Lepas semua pakaian yang basah dan ganti dengan yang kering. Jika tidak ada baju ganti, bungkus tubuh dengan sleeping bag atau jaket berlapis.
Langkah 3: Hangatkan Tubuh Secara Bertahap Kompres area ketiak, leher, dan selangkangan dengan botol berisi air hangat (bukan panas) — di sini pembuluh darah besar berada. Jangan gosok kulit atau rendam dalam air panas karena bisa memperburuk kondisi.
Langkah 4: Berikan Minuman dan Makanan Hangat (Jika Sadar) Teh manis, sup, atau minuman hangat lainnya bisa membantu. Jangan berikan alkohol atau kafein. Jika korban tidak sadar, jangan coba memberi minum apapun.
Langkah 5: Hubungi Bantuan Segera Untuk hipotermia sedang hingga berat, hubungi SAR atau minta bantuan sesegera mungkin. Evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati karena gerakan tiba-tiba bisa memicu fibrilasi jantung.
---
Ingat: hipotermia bisa terjadi bahkan di cuaca yang tidak terlalu ekstrem. Kombinasi lelah, basah, dan angin sudah cukup berbahaya. Selalu bawa perlengkapan yang lengkap, dan jangan pernah meremehkan kondisi cuaca di gunung.
Siap untuk petualangan?
Bergabunglah dengan ribuan pendaki bersama SWF Adventure Jakarta.
Lihat Paket Trip